Business is Spiritual Activities

Bismillah, meluruskan niat hanya untuk Ridho Allah

Assalamu alaikum wr.wb.

Sudah lama juga saya tidak ngobrol dengan sahabat saya dari kecil (mas Budi Pramono, Pixagon Photography). Sore ditemani semangkok bakso langganan kami (Bakso Geger belakang kelenteng Sam Po Kong, Gedung Batu Semarang) saling menanyakan kabar, baik kabar keluarga maupun bisnis masing-masing.

Ada yang sangat menarik dari pembicaraan kmi ketika saling bertukar pengalaman mengenai bisnis. Benang Merahnya adalah kehidupan bisnis tidak bisa dilepaskan dari Spiritual. Saya dan mas Budi sudah mengalami banyak hal dalam berbisnis, mulai dari yang menyenangkan seperti berhasil mengembangkan bisnis dari hal yang kita sukai, menghasilkan duitnya, mendidik karyawan dll. Ataupun hal yang tidak menyenangkan, mulai dari ditinggalkan karyawan sehingga harus mendidik lagi, duit dikemplang orang, piutang tidak dibayar, dikhianati rekan bisnis, rekan bisnis tidak amanah dll.

Kayaknya kok banyak yang tidak disukainya daripada disukainya ya? Nah ternyata disinilah pembicaraan menarik itu bermula. Mas Budi sering dikemplang duit atau hutang tidak dibayar, demikian pula saya. Saya kemudian teringat Bapak (H. Leman Soewarso, yang menurut saya termasuk orang hebat yang berhasil dalam berbisnis) yang dulu seingat saya, sering juga dikemplang duitnya sama orang :D.  Dulu saya sering tanya ke bapak kenapa? Dijawab, sudahlah biarin aja. Kemudian sang waktu membuktikan bahwa orang-orang yang ngemplang  duit atau hutang nggak bayar itu, tidak pernah bisa menyamai apa yang bisa dicapai bapak bahkan banyak yang kemudian bangkrut, atau yang lebih parah, ada yang sepertinya lebih dan serba kecukupan namun keluarganya berantakan !!!  Nah lo !!!

Dalam berbisnis apakah itu wajar, eit tunggu dulu menurut saya itu tidak wajar dan salah kaprah. Itu akan menjadikan kita cenderung menyalahkan orang lain tanpa melihat bahwa kesalahan tetaplah pada diri kita sendiri !!! Kenapa juga kita gampang percaya sama orang ? weittt…..kayaknya saya udah mulai loncat-loncat nih alurnya, nggak apa-apalah daripada mandeg dan tidak jadi tulisan :D. Saya teringat dengan salah satu hasil diskusi dengan Uda Faisal (pengelola PadangPlus Resto Semarang) dimana beliau menjelaskan bahwa kualitas keimanan seseorang bisa dilihat dan diuji dari “bermuamalah” ( lengkapnya ada di Muamalah menurut Hukum Islam). Seseorang boleh saja bicara tentang agama semaunya, boleh saja tiap hari sholatnya nggak pernah ketinggalan ketika berjamaah, ngaji dan sebagainya, tapi keimanannya hanya Allah dan dia sendiri yang tahu, kita bisa melihatnya jika kita sudah bermuamalah dengannya. Yang membunuh Kalifah Ustman bin Affan juga Hafidz Quran bosss. Kata Uda Faisal yang begini ini yang imannya nggak nyampai tenggorokan ! Nyampe tenggorokan aja kagak apalagi sampai Qolb (Hati) ! Berarti Cuma dimulut! Waspadalah ! Waspadalah ! 😀

Kembali ke topik ketika tadi saya diskusi dengan mas budi, mas budi bercerita tentang ketulusan dan keikhlasan, salah satunya adalah dari Pak Irwan Hidayat (pemilik Jamu Sidomuncul) dimana Sidomuncul susah sekali mengalahkan raksasa jamu yang lain ( kebetulan semua raksasa jamu ngumpul di Semarang 😀 ). Pak Irwan mencoba melakukan Public Relation dengan memberikan Mudik Gratis bakul Jamu Se Jabotabek. Tahun pertama sampai dengan tahun kelima belum menampakkan hasil bahkan bisa dibilang malah tekor, wartawan yang dulu banyak meliput jadi makin sedikit. Sehingga pada tahun ke enam beliau (Pak Irwan Hidayat) dihadapkan pilihan untuk menghentikan program Mudik gratis itu. Tapi pak Irwan hanya berpikir, kalau dihentikan, bagaimana nanti para bakul jamu itu ya? Akhirnya dengan tulus beliau tetap menjalankan programnya. Tinggg!!!! Disinilah pointnya bosss, Ketulusan alias keikhlasan !!! Allah membayar semuanya, semenjak itu Sidomuncul mulai menjadi salah seorang dari raksasa-raksasa Jamu . Selain keikhlasan juga Istiqomahnya, kita baru puasa seminggu tapi udah berkoar-koar bilang sabar dan sebagainya. Sidomuncul butuh 5 tahun bosss (kalo dilihat dari awalnya berdiri mungkin udah puluhan tahun)!!!

Jadi dalam berbisnis, kita harus melibatkan Allah. Karena berbisnis adalah perjalanan spiritual Ibadah, baik ibadah kepada Allah secara langsung maupun melalui muamalah sesama manusia. Kalau kita melibatkan Allah, Insya Allah, Sang Maha Kaya akan memberikan rizki yang berkah dan berlimpah untuk kita. Kalau kita berkhianat ? Sama saja meninggalkan ranjau disepanjang jalan yang kita lewati. Suatu saat kita akan terkena ranjau yang kita pasang sendiri. Dan jangan menganggap bahwa berbuat salah itu gampang dimaafkan. Berbuat salah kepada orang lain itu seperti menancapkan paku di sebuah papan, anda bisa mencabut kembali paku-paku itu, tapi anda telah meninggalkan papan-papan itu dalam keadaan rusak/bolong !!!

Terima kasih sudah menyediakan waktu untuk membaca tulisan saya.

Semoga bermanfaat

Wassalamu alaikum wr. wb.

Advertisements

One response

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s